Majelis Ulama Aceh Haramkan Game Judi Online

Majelis Ulama Islam Aceh melarang perjudian online, karena dianggap berakibat fitnah terhadap agama Islam. Dulu, sesepuh kelompok Aceh pernah dihukum berat karena ikut judi online sebagai bentuk hiburan. Sebagai contoh, tangan mereka diikat dan mereka dibiarkan mati kehausan di jalanan. Dilarang juga berjudi online karena sesepuh dari kelompok ini percaya untuk mengikuti ajaran dan aturan Islam dengan ketat. Namun, Majelis Ulama baru-baru ini mengeluarkan perintah tertulis yang menyatakan “Sumpah penjudi online tidak boleh mencantumkan konten perjudian”.

Banyak ahli telah mengangkat masalah mengizinkan situs perjudian di Aceh ada. Mereka menyatakan bahwa keberadaan situs perjudian tersebut akan menimbulkan lebih banyak masalah dan diskriminasi terhadap etnis minoritas Aceh. Masalahnya, masa depan kelompok minoritas ini sangat tidak menentu. Banyak yang dikhawatirkan akan terimilasi menjadi arus utama penduduk yang sudah terjadi dengan masyarakat adat dari wilayah Aceh.

Majelis ulama meyakini banyak risiko dalam bermain game online. Sangat jelas terlihat bahwa internet telah menyebabkan kemunduran dalam cara hidup tradisional. Ada beberapa insiden pelecehan online di Aceh. Banyak penduduk lokal juga diganggu dan dipaksa meninggalkan rumah mereka karena ancaman yang diterima dari pengguna internet anonim.

Ada juga insiden kecanduan game online. Salah satu kasusnya adalah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang ditangkap karena bermain poker. Dia kemudian mengaku bahwa dia telah menghabiskan hampir dua bulan bermain online. Dia juga kehilangan keluarga dan teman dekat dalam prosesnya. Ini menunjukkan bahayanya terlibat dalam game online.

Pemerintah Aceh juga menentang pembukaan kasino online di Aceh. Mereka mengklaim bahwa judi online tidak hanya akan merusak identitas masyarakat Aceh tetapi juga stabilitas negara. Meski tidak memiliki kendali atas permainan online, pemerintah Aceh telah memberlakukan peraturan ketat atas pengiriman uang dari luar negeri.

Banyak orang asing menyambut baik keputusan Aceh yang melarang game online. Sebuah situs game online di Dubai baru-baru ini menerima izin dari pemerintah untuk mengoperasikan lima stasiun game. Langkah ini dipandang sebagai pertanda positif oleh banyaknya orang asing yang khawatir masyarakat Aceh akan punah di daerah tersebut. Namun, penting untuk dicatat bahwa terlepas dari dukungan pemerintah yang nyata, masa depan perjudian online di Aceh tetap diragukan. Masih ada elemen di dalam negeri yang menentangnya.

Seorang pengembang game yang berbasis di Pakistan juga telah menerima keluhan tentang diskriminasi. Pendiri dan operator situs judi tersebut mendapat ancaman dari anggota kelompok etnis minoritas Aceh. Menurut pengembangnya, ancaman ini datang terutama melalui panggilan telepon tetapi juga termasuk surat dan email. Hingga saat ini, perusahaan tidak melakukan upaya apa pun untuk membendung gelombang ancaman atau mengatasi kekhawatiran atas masalah tersebut.

Kekhawatiran akan game online di Aceh lebih dari sekadar intoleransi dan diskriminasi agama. Ini juga merupakan pertarungan untuk kepentingan bisnis perusahaan asing di kawasan. Misalnya, seorang pengembang game online yang berbasis di Pakistan menerima ancaman tahun lalu dari anggota etnis minoritas Aceh bahwa mereka akan membakar situs game jika mereka tidak berhenti membuat game yang dianggap menghina kelompok tersebut. Ada juga beberapa kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat merusak hubungan antara negara dan tetangganya.

Tulisan ini dipublikasikan di Judi Online dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.